Ini adalah perjalanan pertama saya menembus negara lain. Awalnya hanya ingin ke Penang, Malaysia. Namun, setelah mengetahui bahwa dari Penang ada angkutan yang bisa membawa saya mengarah ke Hatyai, Thailand hanya dalam 4-5 jam, saya kembali mengubah rencana perjalanan. Jadi, terealisasilah jalan-jalan saya ke dua negara di Asia Tenggara.
Hehmmm…ternyata berada di Negara lain itu susah-susah seru. Salah satunya permasalahan bahasa. Walau di Penang dan Kuala Lumpur juga menggunakan bahasa melayu yang hampir sama dengan yang kita gunakan di Indonesia, tapi tetap saja pelafalannya susah sekali dimengerti. Suatu kali ketika baru menginjakan kaki di sebuah terminal di Penang, saya harus menyambung bus ke arah Komtar, sebuah area yang sering sekali dijadikan patokan oleh para wisatawan. Nah, tiba-tiba supir bus ini bertanya darimana kami (saya dan seorang teman) berasal. Ketika kami sebut Jakarta, dia terlihat sangat sumringah. Alhasil dia dengan sangat terbuka mengajak kami berputar-putar Penang dengan ongkos bus RM 2. Tak berbeda dengan seorang pemandu wisata, sang bapak supir ini menjelaskan hampir semua tempat yang kami lewati. Bahkan dia menawarkan kami untuk mendatangi rumah seorang pejabat duta besar Indonesia yang berada di Penang. Dari bahasa tubuhnya, saya meyakini bahwa dia sangat menikmati profesi barunya sebagai pemandu kami. Tapi lagi-lagi kami juga pusing tujuh keliling dan harus memutar otak dan menajamkan telinga untuk memahami kata-kata yang dihasilkan oleh lidah melayunya. Kami menanggapinya dengan bahasa Indonesia karena kami tersadar bahwa orang-orang melayu ini lebih menyukai kami ketika berbahasa melayu. Supir bus sebelumnya, yang seorang Cina, juga mengatakan hal serupa. Ketika saya tanya, “We want to go to Komtar. Which bus that we have to take?”. Dia menjawab, “Get platform 1. Where do you come from?”. Saya menjawab, “Indonesia”. Langsung saja sang bapak ini berkata dengan wajah sumringah “Wah….Indonesia. Cakap melayulah”. Dan bla…bla…bla… Jujur, saya tak menyangka antusiasime orang Malaysia yang begitu besar ketika bertemu dengan orang Indonesia.
Ok, kembali ke pak supir yang membawa kami berputar-putar Penang. Perjalanan yang memakan kurang lebih 45 menit itu saya manfaatkan untuk bertanya tempat yang akan saya kunjungi di Penang yang sudah saya cari melalui website. Yah, walau dengan susah payah memahami penjelasannya. Sialnya lagi, posisi saya lebih dekat dengan supir itu sehingga mau tidak mau saya yang harus lebih aktif berkomunikasi dengan pak supir ketimbang teman saya.. Hihsss… Dan teman saya hanya cengar-cengir dan pura-pura melihat keluar jendela ketika saya kebingungan dengan logat melayu kental sang supir.
Beda orang, beda juga pengalaman yang akan didapat. Kali ini saya bertemu dengan pasangan Jepang yang sudah lumayan lanjut usia. Kami bertemu mereka di sebuah tempat makan yang menunya bikin ngiler (saya akan menceritakan pengalaman di kedai ini secara khusus), yaitu rumah makan Selera Mutiara yang memang menyajikan makanan khas india. Saya melihat pasangan Jepang yang duduk persis di samping kami ini memesan nasi Kandar dengan lauk sepotong ayam yang super besar. Mereka hanya memesan satu makanan dengan satu gelas es teh yang mereka makan berdua. Di sela-sela makan kami berempat, Ibu Jepang menunjuk-nunjuk minuman yang dipesan teman saya. Yah…hanya dengan bahasa tubuh itu, kami paham bahwa dia bertanya apa nama minuman itu. Kami jawab saja, “Lychee Juice” ditambah dengan acungan jempol untuk menandakan bahwa minuman ini enak. Mereka mengangguk-angguk sembari berekpresi menahan pedas ayam yang mereka makan. Saya balik bertanya, “It that hot?” , sambil menunjuk piring mereka. Tapi, pertanyaan saya hanya dijawab dengan guratan kebingungan di wajah mereka. Yup, saya tersadar bahwa pasangan ini tidak terlalu mengerti bahasa inggris. Berusaha tidak mundur dari pertanyaan itu, saya kembali menunjuk ayam itu dan berekspresi kepedasan sambil mengeluarkan suara “huah…huah…huah…” Fuihhhh, syukurlah mereka mengerti. Dan si ibu menjawab, “Oyaya..hot..hot…”, dengan logat Jepang kentalnya. Karena yang saya tahu di Jepang itu ada wasabi yang katanya super pedas, saya bertanya lagi ke mereka. “It is hotter than WASABI?” (dengan penekanan di kata wasabi). Mereka jawab, “wasabi..ya..ya..ya hot”. Ampuuuun, sepertinya mereka tidak menangkap maksud saya. Dengan segala daya upaya, jungkir balik, tangis haru biru (hahahaha), saya mencoba menjelaskan maksud saya dengan bahasa tarzan. Akhirnyaaa… Si Bapak Jepang sepertinya paham dan menjawab melalui bahasa tubuh pula dengan menimbang-nimbang dua tangannya yang saya artikan, makanan yang mereka makan sama pedasnya dengan wasabi.
Berlanjutkan perbincangan aneh kami berempat. Yang dua pakai bahasa jepang, yang dua lainnya memakai bahasa inggris campur Indonesia. Tapi hasilnya, obrolan seru menemani acara makan kami. Selesai mereka makan, mereka berpamitan. Teringat satu kata yang saya tahu dalam bahasa jepang, saya keluarkanlah kata-kata itu sebagai bentuk terima kasih saya atas obrolan menyenangkan dengan mereka. “Arigatou”. Tiba-tiba, mereka berdua berebutan berbicara dengan saya dalam bahasa Jepang. Mungkin mereka mengira saya bisa berbicara dalam bahasa mereka. Langsung saja saya “gelagepan” mengimbangi perkataan-perkataan mereka sambil geleng-geleng kepala menandakan saya tidak bisa berbicara bahasa Jepang. Ketika kami akan berpisah, barulah saya menyebutkan nama saya dalam bahasa Jepang. “Watashiwa shima desu”, walau belum yakin juga apakah artinya benar. Dan melanjutkan menunjuk teman saya dan menyebutkan namanya. Lalu sang bapak berbicara dalam bahasa inggris, “you, you (sambil menunjukan kami) beauty”. Hahahahaha…. Lalu sang ibu juga berbicara dalam bahasa inggris yang tidak jelas, kira-kira bunyinya seperti ini, “I had lived in Malaysia for 10 years”. Saya dan teman saya hanya berekspresi kagum sambil mengeluarkan suara “Wahhhhhh…”, yang belakangan kami mulai sadari kalau kami kemungkinan salah mendengar. Mana mungkin orang yang pernah tinggal di Malaysia 10 tahun, kok sedikit pun tak bisa berbahasa selain Jepang. Mungkin maksudnya, dia sudah 10 tahun tidak ke Malaysia.. Dung..dung J
Yang satu ini lain lagi. Dalam perjalanan naik van dari Penang ke Hatyai, kami bertemu dengan banyak orang dari berbagai Negara. Kalau dari bahasanya, ada yang berbahasa cina, thaailand, jepang (menurut teman saya) atau eropa non inggris (menurut saya), dan satu orang laki-laki barat yang diam saja karena memang tidak memiliki teman perjalanan. Bercampurlah berbagai bahasa Indonesia kami dengan masing-masing bahasa mereka. Sampai hamper perbatasan Malaysia-Thailand, supir menurunkan kami di sebuah tempat makan yang terdapat jasa pengurusan paspor. Hampir semua penumpang yang tersisa (8 orang), karena yang lain sudah turun sebelum sampai Thailand, memanfaatkan kesempatan ini untuk ke toilet. Setelah saya ke toilet, saya melihat dua perempuan yang berbahasa Jepang atau Eropa non inggris itu dijemput oleh sebuah mobil. Jadi, sisalah kami berenam. Supir meminta saya dan teman saya untuk mengisi formulir kedatangan. Karena memang baru pertama kali, teman saya mencoba bertanya satu item yang kami bingung mengisinya kepada pria barat itu. Sekembalinya teman saya, dia memberitahu saya bahwa pria barat itu tidak terlalu mengerti bahasa inggris. Singkat cerita, sampai di perbatasan dan kami harus ke imigrasi, pria itu bertanya darimana kami berasal. Dan, akhirnya berlanjutlah obrolan kami bertiga karena saya dan teman saya menawarkan dia untuk duduk di dekat kami selama di van. Namanya phillip, dia berasal dari Switzerland yang daerahnya lebih banyak menggunakan bahasa Jerman. Ternyata Phillip baru saja pulang dari danau Toba. Dia sudah pernah ke Hatyai sebelumnya. Dan rute perjalanan dia kali ini adalah Switzerland-Bangkok-Hatyai-Malaysia-Sumut-Malaysia-Hatyai-Bangkok-Switzerland. Berbekal pengalamannya, kami meminta Phillip untuk memperbolehkan kami mengikutinya mendapatkan guesthouse di Hatyai. Beruntung, dia juga berencana menginap di sebuah penginapan yang dekat dengan stasiun. Memang ini juga rencana saya, menginap di dekat stasiun agar besoknya saya akan bertolak ke KL naik kereta. Beruntung saya bertemu phillip.
Lebih seru lagi cerita di Hatyai. Ternyata di negara ini hampir semua orang tidak bisa berbahasa inggris. Walhasil, bertanya dengan pak polisi, orang di pinggir jalan, supir tuk-tuk, hingga penjual buah, semuanya sama. Pakai bahasa tubuh. Hahaha… Susah payah seorang polisi memberitahu kamu ongkos naik tuk-tuk yang akhirnya membuat saya mengeluarkan kertas dan pulpen, jual beli yang banyak dibantu dengan kalkulator, atau seorang penjual buah yang menunjuk langit (dan menyebut sky) hanya untuk memberitahu kalau kami harus naik angkot berwarna biru. Jadi, berada di Hatyai tiba-tiba membuat saya menjadi orang yang terlihat fasih sekali berbahasa inggris. Hahahahaha….
Bertemu dengan dengan bermacam-macam manusia dengan latar belakang beragam itu memang seru dan menyegarkan. Walau terkadang kami harus mengulang perkataan kami karena dia kurang paham, walau kami harus mencoret-coret formulir kedatangan karena dia “sok tau” menjawab pertanyaan kami yang membuat salah isi, walau harus jumpalitan kayak tarzan, walau sering sekali kerutan di dahi muncul, walau dengan kesulitan-kesulitan lain karena perbedaan bahasa, saya sangat menikmati ini semua. Mengobrol hangat dengan supir bus, ketawa-ketiwi bersama pasangan Jepang, berteman dengan Phillip di perjalanan, dan main tebak-tebakan kata dengan orang-orang Thailand. Semuanya mempunyai kesan di hati…
Recent Comments