Plan B atau rencana cadangan. Sebuah kata yang jarang sekali saya gunakan. Berbeda dengan seorang prefeksionis, saya lebih cenderung menikmati saat-saat dimana saya tidak tahu harus melakukan apa, dimana, dengan siapa, bagaimana, pokoknya saya menyukai sesuatu yang spontan terjadi.
Ini juga terjadi pada perjalanan saya di KL baru-baru ini. Dalam perkiraan saya sebelum pergi, KL akan menjadi tempat yang paling tidak memberikan pengalaman yang besar dibanding Penang dan Hatyai. Kenapa? Karena menurut saya, KL itu hampir sama dengan Jakarta. Sebuah kota metropolitan yang kurang menarik bagi saya yang lebih menyukai suasana kampung. Nah, ketika saya sudah menyelesaikan eksplorasi saya di Penang -Hatyai setelah itu ke KL, saya hanya menyiapkan “amunisi” untuk mengunjungi Twin Tower yang katanya bagus. Selesai mandi pagi, saya langsung bertolak ke KLCC untuk antri naik ke Twin Tower. Huhf… ternyata ketika jam tangan saya menunjuk pukul 09.00, antrian untuk naik sudah sangaaaattttt panjang. Karena memang tujuan saya di KL hanya ingin naik Twin Tower dan nanti malam ke Petaling street, saya ikut antri saja meski harus menghabiskan waktu untuk antri seharian ini. Eh, tiba-tiba saya dapat info dari penjaga bahwa antrian belakang termasuk saya hanya akan mendapatkan tiket untuk besok. Karena besok pagi saya sudah harus bertolak ke tanah air, saya langsung cabut saja dari antrian.
Bingung mau kemana, saya akhirnya memutuskan berangkat ke Genting Highland (awalnya saya kira namanya itu Genting Island. Sampai saat perjalanan pulang dari Genting naik bus dan ada iklan Genting di pinggir jalan, saya baru sadar kalau selama ini saya salah pengertian..hahahaha). Kebetulan, dua orang teman saya yang berbeda perjalanan, katanya juga mau kesitu. Dari antusiasme dia menceritakan Genting, saya tertarik untuk mencoba mendatangi lokasi ini.
Akhirnya saya membeli tiket bus ke Genting siang harinya. Sekitar satu setengah jam perjalanan, saya sampai ke Genting. Dan eng…ing…eng… Selain kereta gantung yang memang jaraknya panjang itu, tidak ada hal lain yang menarik mengenai Genting. Kanan kiri, depan belakang, semua dipenuhi mall atau pusat hiburan. Saya keliling berjalan kaki tapi itu-itu lagi yang ditemukan. Bosan! Tidak lebih dari satu jam keliling Genting, saya langsung mengarahkan kaki dan otak saya untuk mencari tiket bus untuk pulang ke KL. Bolak-balik dan tanya sana sini, akhirnya saya menemukan terminal kecil yang sepertinya tidak terlalu familiar oleh petugas-petugas keamanan di Genting. Soalnya, setiap saya tanya, mereka pasti bberbeda-beda info. Ada yang bilang, saya harus balik lagi ke tempat awal saya naik keret gantung, bus sudah tidak ada, bahkan ada yang tidak tahu klo di dekat situ ada terminal. Hahahaha….
Setelah mendapat tiket bus Genting-KL untuk sorenya, saya memutuskan untuk mencari berputar-putar dulu. Teringat tadi ada tanda yang menunjukkan arah kebun bunga Genting, saya mencoba mencari kebun bunga itu. Lumayanlah, daripada saya harus menunggu di terminal selama bus saya belum datang. Lelah, penat, dan sumpek akhirnya membuat saya putus asa untuk menemukan kebun bunga itu. Melihat ada pelataran dengan beberapa tempat duduk batu bata dan sedikit dihiasai tanaman, membuat saya membelokkan kaki ke tempat itu. Melepas lelah dengan pemandangan kabut yang sudah semakin turun. Ada beberapa orang yang mengambil keputusan seperti saya. Kebanyakan siy memutuskan merokok karena memang ini adalah lokasi terbuka. Tapi ada juga yang Cuma bengong-bengong seperti saya. Mungkin nasibnya tidak beda jauh dengan yang saya alami saat itu. Hahahaha…
Hanya beberapa menit disana, saya sudah tidak tahan dengan asap rokok yang semakin lama semakin “melilit” paru-paru saya. Akhirnya, saya kembali terbuang dari lokasi itu dan memutuskan untuk kembali masuk ke mall untuk mencari makan siang yang bisa dimakan di bus nanti. Dengan langkah gontai tanpa semangat saya berjalan menuju mall. Tiba-tiba penunjuk arah Kebun Bunga Genting terlihat kembali. Tapi kok….. terlihat aneh ya. Posisi panahnya kok melawan arah saya, yang artinya, kebun itu tepat berada di belakang saya. Oalahhhhh….ternyata lokasi saya istirahat sebentar itu, yang penuh dengan rokok, yang tempatnya kecil, yang posisinya nyempil, yang jumlah bunganya lebih sedikit daripada bunga di kebun mama saya di rumah, itu adalah Kebun Bunga Genting….Hah!!!!!
Beda cerita ketika saya ke Penang. Di hari kedua di sana, setelah ke Kek Lo Si, saya harus cepat-cepat balk ke hostel sebelum jam 12 siang yang merupakan batas waktu check out. Singkat cerita saya berhasil sampai hostel dan tidak dimintai tagihan lagi. Tapiiii…saya kehilangan waktu di jalan. Padahal saya ingin sekali ke Penang Hill yang lokasinya ternyata tidak terlalu jauh dari Kek Lo Si. Kalau saya balik lagi kesana dari hostel, saya khawatir akan ketinggalan van yang akan membawa saya ke Thailand jam 4 sore. Bingung lagi mau kemana, akhirnya saya memutuskan untuk naik saja Hop On (angkutan umum gratis di Penang) dengan tujuan entah kemana. Teringat sebuah jam besar yang sempat saya lewati ketika saya diajak berputar-putar oleh supir Rapid Penang, saya menuju saja jam besar itu. Terserah Hop On yang saya tumpangi ini mau kemana, pokoknya kalau saya melihat jam itu, saya akan langsung turun.
Setelah 15 menitan berputar-putar Penang, akhirnya di kejauhan, saya melihat jam itu. Di halte terdekat dari situ akhirnya saya turun. Di tengah panas terik, saya berputar-putar sekitar situ. Ternyata, jam itu letaknya dekat dengan laut. Saya berjalan menuju laut dan di sepanjang rute yang yang tempuh ternyata saya mendapatkan banyak lokasi-lokasi menarik yang tidak saya dapat infonya di internet. Saya menemukan secuil pantai kecil berpasir putih, Fort Cornwallis (Benteng, yang tidak jadi masuki karena harus beli tiket. Jadi hanya lihat-lihat di sekitarnya saja), Tugu veteran perang Malaysia, dan juga Majelis Perbandaran Pulau Pinang. Pokoknya seru ada di tempat ini. Sebuah tempat yang tidak ada di jejeran lokasi yang harus dikunjungi, tapi berhasil memikat hati.
Yah….itulah nikmatnya jalan tanpa ada aturan. Saya bisa saja mengubah rencana saya begitu saja sehingga bisa jadi saya mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan tapi bisa juga sangat begitu dinikmati. Jadi, tidak punya rencana cadangan bukan suatu yang harus dihindari. Saya malah akan mendapatkan sesuatu yang mencengangkan baik itu dalam arti baik atau kurang baik. Yang penting saya tahu konsekuensi yang mungkin saya hadapi. Dua-duanya harus sama-sama disyukuri karena pengalaman itu mahal harganya.
24
Feb
11
catatan perjalanan, It won’t be worse it won’t be better
Advertisement
0 Responses to “catatan perjalanan, It won’t be worse it won’t be better”