“Huhf… ini adalah perjalanan terburuk yang pernah gw jalanin. Gak akan gw balik ke tempat itu lagi”.
Itu adalah isi kepala saya setelah saya melakukan perjalanan ke Singapura. Bagaimana tidak, sepulangnya saya ke tanah air, sedikit pun saya tidak mendapatkan kesegaran baru. Berbeda dengan perjalanan lain yang mampu membuat saya tersenyum mengenang setiap kejadian yang terjadi di perjalanan, atau bahkan membuat otak saya jauh lebih segar ketimbang sebelum perjalanan, Singapura tidak memberikan “obat” mujarab dalam menjawab kesuntukan aktifitas sehari-hari saya.
Saya memang tidak berekspektasi terlalu tinggi terhadap negara ini. Lha wong banyak informasi yang beredar mengatakan bahwa negara ini adalah surga belanja. Sedangkan saya lebih suka mengekplorasi sesuatu di luar dunia shopping. Yah…walaupun begitu, saya masih memiliki harapan karena di penghujung penantian saya menuju Singapur, saya mendapatkan beberapa referensi tempat wisata yang saya rasa cukup nilainya di mata saya.
Tapi apa yang akhirnya terjadi. Saya bahkan sampai pada titik membenci negara kecil itu dan tidak mau kembali lagi untuk melakukan perjalanan kesana. Lebih dari seminggu sekembalinya saya ke Indonesia, saya masih mangkel dengan perjalanan kali ini. Seakan-akan perjalanan tempo hari itu hanya merupakan kewajiban yang harus dilakukan karena sudah terlanjur dibeli tiketnya. Bagai sebuah perjalanan sia-sia yang bahkan membuang banyak uang dengan mahalnya kehidupan di sana.
Tapi sekarang kepala saya mulai mengatur isinya. Otak saya mencoba untuk berpikir lebih objektif dan menempatkan emosi tidak pada pucuk pandangan. Dalam setiap pemikirannya, saya mencoba untuk menghela nafas dan tidak menganakemaskan kemarahan saya pada negara ini. Dan akhirnya saya menyadari, semua perasaan tidak enak sepulang ke tanah air bukan diakibatkan keadaan yang ada di Singapura. Semua itu terjadi karena diri saya sendiri yang membuat perasaan menyebalkan itu.
Saya mencoba mengulang kembali alasan kenapa pada awalnya negara ini membuat saya kesal. Ini dia alasan-alasannya dan bagaimana alasan yang muncul di otak saya itu mulai dipatahkan dengan pemikiran dingin di otak yang sama :
1. Petugas imigrasi di Singapura terlalu ketat dan sangat amat tidak ramah Hei, bangun shima, mulai kapan saya memiliki harapan bahwa seorang petugas imigrasi akan memberikan senyuman terindah pada pendatang di negaranya. Memang terkadang kita beruntung mendapatkan petugas yang ramah tapi mungkin memang pembawaan personalnya saja ramah. Ketika saya berhadapan dengan petugas imigrasi yang baik, itu saya hitung bonus dalam perjalanan saya, bukan keharusan yang mutlak saya terima. Di otak saya mewajarkan bagaimana seorang petugas imigrasi bisa sangat sinis ketika memberikan cap di paspor. Bayangkan, setiap hari dia harus duduk dan melayani sejubel manusia hanya untuk mencap paspor mereka. Pastilah ini membosankan untuk mereka. Jadi, kalau mereka tidak ramah, yasudahlah, terima saja sejauh mereka tetap meloloskan saya masuk ke negaranya. Jadi, kejadian tidak menyenangkan dengan petugas imigrasi Singapura, tidak bisa menjadi alasan kekesalan saya terhadap perjalanan kali ini.
2. Orang Singapura adalah orang yang individualis sekali Hahaha… Kalau dipikir lagi sekarang, saya merasa alasan ini sangatlah lucu. Sudah jelas-jelas saya hanya menjadikan alasan ini sebagai kambing hitam pekatnya hati saya setelah tidak mendapatkan perasaan segar apapun sepulang dari Singapura. Memangnya urusan saya mereka individualis atau tidak??? Memangnya saya mengharapkan semua orang Singapura akan mengobrol ngalor ngidul atau ber-haha-hihi dengan saya. Faktanya, setiap saya bertanya arah, tempat, atau apapun juga ke mereka, dengan terbuka mereka menjawab dan mencoba menjelaskan ke saya. Kalau ada satu atau dua orang yang tidak terlalu enak menjawabnya, sangatlah tidak adil apabila saya menyamakan setitik orang itu dengan kebaikan yang sudah diberikan oleh orang-orang yang lain. Hahhhh…. saya mulai merasa bahwa otak saya semakin picik . Wajar kalau saya tidak mendapatkan pengalaman seperti sebelum-sebelumnya. Perjalanan yang dulu-dulu, tidak pernah saya lakukan dengan lebih dari satu orang. Secara natural, ketika saya bersama dengan banyak orang, interaksi saya dengan orang di luar kelompok itu akan semakin menipis. Ketika saya melakukan perjalanan dengan lebih dari satu orang, kemungkinan interaksi yang terjadi pada saya dan orang luar, misalnya pada saat bertanya suatu tempat, akan lebih sedikit dibanding ketika saya berjalan hanya dengan seorang saja. Dan kemungkinan besarnya pula akan sibuk sendiri dengan kelompok besar itu yang akhirnya membuat saya tidak mempedulikan keadaan sekitar. Sebaliknya, hal serupa akan dialami oleh orang-orang di sekitar kelompok kami. Karena jumlah kami yang cukup banyak dan kesibukan-kesibukan yang kami lakukan, pastilah mereka merasa enggan untuk berinteraksi dengan kami. Dan setelah diingatkan oleh seorang kawan, saya ingat pernah bertemu dengan sepasang suami istri Singapura yang super ramah di Genting. Dan, mereka yang terlebih dahulu menyapa saya dan seorang teman saya . Jadi, ketidakramahan yang saya rasakan bukan alasan tepat kenapa saya merasa sia-sia dengan perjalanan ini.
3. Rombongannya terlalu besar, jadi isi kepalanya banyak yang berbeda Lagi-lagi saya berpikir dan berpandangan sangat sempit. Bagaimana bisa saya menyalahkan teman-teman seperjalanan saya kali ini. Seakan-akan dengan melahirkan pemikiran ini, saya bebas untuk menunjuk bahwa orang lain yang membuat saya tidak nyaman. Pengalaman kali ini akhirnya menyadarkan saya bahwa saya adalah seorang yang egois dalam sebuah perjalanan. Awal sebelum berangkat, saya merasa bahwa saya akan mampu untuk bertenggang rasa kepada teman saya yang lain akan pandangan dan minat mereka masing-masing. Harapan indah saya adalah menyatukan semua keinginan agar semua terpuaskan. Tapi apa yang terjadi? Semuanya bubar, minimal untuk diri saya sendiri. Saya kesal ketika saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan dalam suatu perjalanan. Saya kesal ketika ada banyak sumbangsih pikiran dalam sebuah perjalanan. Saya juga kesal ketika saya harus dengan rendah hati (red : terpaksa) mengikuti hal-hal yang saya anggap tidak saya butuhkan dalam sebuah perjalanan. Dan yang terlebih lagi, saya sangat kesal mengetahui kenyataan bahwa saya harus menghabiskan perjalanan ini dengan memikul berganda-ganda rasa kesal. Saya hanya ingin dalam setiap perjalanan yang saya lakukan itu sepadan. Saya harus mendapatkan pengalaman yang mengesankan. Tapi itu semua bukan salah teman-teman seperjalanan saya. Saya hanya belum mengenal diri saya sendiri. Dengan perjalanan ini akhirnya saya paham bahwa saya bukan tipe orang yang senang dalam perjalanan berkelompok yang besar. Selama ini, saya menikmati ketika saya berjalan hanya dengan seorang saja. Saya merasa otak saya tidak terlalu diperkosa. Jadi, saya harus lebih bijak untuk menyikapi diri saya sendiri untuk perjalanan-perjalanan kedepan.
Namun, dari semua kekesalan itu saya mendapatkan buahnya juga. Sekarang, saya semakin mengenal diri saya sendiri. Tidak perlu lah menunjuk pihak lain dalam pembentukan perasaaan saya. Mau itu bahagia, mau itu marah, mau itu kesal, mau itu lega, semua saya yang mengaturnya. Seandainya saya tidak ada perjalanan ini, saya yakin tuhan akan mengajarkan saya tentang hal ini di perjalanan-perjalanan yang lain. Syukur alhamdulillah pengalaman aneh ini terjadi ketika mengunjungi Singapura yang notabene masih sangat dengan Indonesia. Coba kalau pengalaman ini terjadi ketika saya ada di Papua, atau di Maluku Utara, atau Korea, atau Flores, atau Eropa, atau bahkan Tibet. Huaaaaa…. bisa nangis tujuh turunan saya
0 Responses to “pejalan yang egois”