05
Jan
12

Puzzle of Us

Aku masih ingat senyum itu. Ketika mata kita terkadang bertemu di ruang belajar. Aku sering mencuri pandang ke arahmu. Mungkin kamu tak pernah sadar bahwa setiap kesempatan aku mencoba memperhatikan tingkah lakumu di seberangku. Kamu memang satu-satunya orang yang tak pernah menempati bangku di sebelahku. Tapi tahukah kamu… Kamu berhasil singgah dan tumbuh di hatiku.

Aku masih ingat senyum itu. Ketika kita tertawa bersama di sela tugas-tugas menumpuk yang kita kerjakan berdua. Sumringah yang tercipta atas kisahku dan anggukan lembut kepalamu. Diwarnai latar TV yang seringkali tak kita pedulikan. Aku duduk di sini dan kamu duduk di sana.

Aku masih ingat senyum itu. Ketika tangan kita mulai bertaut. Lembut tanganmu kerap membuatku iri. Walau itu seringkali hanya bentuk manjaku padamu. Dan aku suka ketika kamu memberi respon akan sikapku. Tanganmu terasa hangat yang akhirnya berhasil menenangkan hatiku. Namun, tanganmu juga terasa dingin. Kamu tahu, ia berhasil membekukan setiap jengkal tubuhku saat itu.

Aku masih ingat senyum itu. Ketika kamu menahanku untuk tetap di sampingmu dengan melawan rasa kantukmu. Entah apakah itu hanya perasaanku saja. Tapi yang terpenting, hatiku serasa melompat saat itu. Akhirnya, kamu berhasil tertidur lelap dengan masih menggenggam tanganku.

Aku masih ingat senyum itu. Ketika kamu keluar dari kamar dengan rambut berantakan. Padahal kamu harus presentasi pagi itu. Kurapikan rambutmu, dan kamu sekali lagi menyunggingkan bibirmu.

Aku masih ingat senyum itu. Ketika kamu duduk di sampingku di bioskop. Sepanjang film, aku merasakan degupan dadaku yang tak kuasa kutahan. Aku berada di sampingmu. Kamu, orang yang kusayang, berada di sampingku.

Aku masih ingat senyum itu. Ketika kamu pertama kali bertemu orang tuaku. Dengan wajah bingung mereka memandangmu dan sepertinya tertarik denganmu. Kamu hanya berbicara dan menjawab seadanya di tengah obrolan seru aku dan orang tuaku. Tapi, kamu berhasil membuatku tertawa ketika menghabiskan dua tusuk sate di warung soto itu, padahal keluargaku hanya satu.

Aku masih ingat senyum itu. Ketika kamu menyetir di sebelahku. Aku sering menoleh ke kanan untuk memperhatikan setiap lekuk dari wajahmu. Dendangan ringan tercipta dari lidahmu dan seakan musik kecil itu menjadi teman setia di perjalanan panjang kita.

Aku masih ingat senyum itu. Walau aku tak bisa melihatnya. Tapi aku bisa membayangkannya ketika kudengar suaramu di seberang sana. Pasti senyummu tak lupa terhias di wajahmu. Senyum yang menjadi rindu di hatiku.

Apakah kamu masih ingat semua itu? Setiap keping senyum yang terbentuk di antara kita berhasil membawa kita hingga ke tahap ini. Tak ada yang sulit dan tak ada yang tak mungkin di dunia ini. Sepanjang senyum kita bisa terus bersama, aku yakin senyum itu akan meluluhkan dunia, takdir, dan segalanya….

This slideshow requires JavaScript.

Advertisement

1 Response to “Puzzle of Us”


  1. January 5, 2012 at 7:58 pm

    sungguh terbawa suasana… saat membacanya jadi terbayag… saat senyum itu mulai memancar…spakah pemilik senyuman itu.. siapakah gerangan..????


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.