Aku senang dengan pembicaraan kita sore ini. Kita sudah berani terbang tapi dengan sebuah arah. Tak lagi menyusuri langit hanya karena kita terbuai dengan birunya, dan terpana dengan putihnya awan. Ibarat tumbuhan, kita sudah mampu memilah batang mana yang harus lebih dulu tumbuh dan bagian mana yang kita tahan untuk cadangan makanan kita.
Kita mencoba untuk beranjak dari zona nyaman. Walau yang kita rasa ini semua masih terasa dini, tapi inilah kedewasaan. Konsekuensi dari sebuah keputusan besar yang kita ambil (minimal untuk diriku). Bukan sebuah permainan bocah yang hanya bisa mengumbar tawa dan senyum. Apakah ada dilema di dalamnya? Untukku, itulah tanda bahwa kita harus mampu menjalankannya. Karena hidup bukan hanya untuk bersenang-senang, tapi ia adalah perjuangan. Untukku dan pula untukmu.
Kuakui, sejuta bisu terlahir dari pembicaraan itu. Tapi setidaknya, kita sudi untuk memulainya. Walau masih terasa sangat abu-abu, namun aku yakin, Allah tak pernah tidur. Karena itu, aku tak akan pernah menidurkan kekuatanku. Akan kuperjuangkan dirimu sampai suratan takdir menuliskan kata terakhirnya. Bagaimana dengan dirimu wahai pria yang kusayang?
Ya, aku memang sayang kamu. Bahkan rasa sayangku tumbuh seiring dengan putaran waktu di setiap detiknya. Seperti yang kukatakan padamu, aku ternyata tak mampu membendung perasaanku padamu dengan batas yang coba kubangun. Semua hancur seirama dengan kelembutan sikap, rasa sayang, dan penghormatanmu padaku. Dan ternyata aku semakin sayang padamu.
Jujur, aku hanya bisa menangis dalam solatku setelah pembicaraan itu. Pada siapa lagi aku mengadu kecuali pada tuhanku. Aku hanya mengharapkan sesuatu yang indah untuk kita berdua. Dan aku masih yakin, Allah punya rahasia yang manis untuk aku dan kamu. Apakah keyakinanmu sebesar keyakinanku?
Mimpi yang kubangun mungkin masih sulit untuk dirintis pada bagian-bagian tertentu. Tapi aku bukannya sedirian kan? Aku memiliki kamu. Seorang lelaki yang ada karena akal sehatku dan kecenderungan hatiku. Aku ingin menjalani setapak demi setapak dengan kamu di sampingku. Entah itu sulit, entah itu mudah. Karena saat ini aku memilihmu. Dan asaku di masa depan, senyum manis itu tak akan pernah tergantikan.
Depok, Minggu, 15 Januari 2012
Good luck, Shima, God knows best, my prayers with u
Tengkyu dina
Doakan ya semoga semua bisa bahagia 
Sori din, gw gak bisa dateng pas nikahan lo. Pas itu, gw lagi ada pelatihan… Bahagia sampe kakek nenek ya jeng…